Mutiara capter 1 - CeRITa PeNDEk - File Catalog - RaChmAt WahYuNiaWan
Monday, 12.05.2016, 1:28 PMMain | Registration | Login

Site menu

I lOvE ALLAH SWT

PenUNjUk WaKTu

Search

Login form

Radio

Widget By: Forantum

PenGUnjuNG

Google Translate

Google Translate
Arabic Korean Japanese
Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German
Spain Italian Dutch

Our poll

Rate my site
Total of answers: 13

StATIstik


Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
File Catalog
Main » Files » CeRITa PeNDEk

Mutiara capter 1
10.15.2010, 2:34 PM

Mutiara

 

Semalam mimpi buruk itu hadir lagi, aku tak biasa berada dan melihat mimpi yang begitu menghantui, tapi itu semua telah ada di hadapanku, apa  mau dikata. Kini aku berdiri diatas realita, dan semoga tak akan terjadi apa-apa karena ku belum siap.

Seseorang yang sangat sama denganku menyapa, ya kami kembar identik, tapi sifat kami jauh diatas sama, sangat berbeda.

" Ra, kamu ma papa katae disuruh ngelanjutin ke luar negeri, kan? ”

            " Kamu kan udah tau aku orangnya gmna, mutia. bagaimanapun aku nggak suka dengan hal akademik, aku hanya mau melanjutkan sekolah psikologi usai smp ini, lagian papa nggak seharusnya maksa khendak anaknya, kan? ” Tutur Tiara pelan

" Tapi, Ra.... itu kata papa, dan dia ingin anaknya berhasil. ”

" udahlah, itu masih lama dan aku malas memikirkan hal itu, aku takut mikir terlalu ”

Tiara tak menghiraukan perkataan Mutia, lebih tepatnya capek untuk mendengarkan. Dia amat kesal pada papanya, dia yang dari kecil dipisahkan dengan papanya dan tinggal di rumah nenek karena mamanya semenjak ia lahir telah tiada

Gadis itu meninggalkan Mutia yang diam terpaku, dan dia hanya bisa diam. Tiara mengambil secarik kertas yang tak lain adalah karcis pertandingan basket, dan pergi menuju lapangan sekolah. Disana telah sesak, dan padat penonton, ada pertandingan basket yang selalu tak tertinggal untuk dilihatnya.      

Seseorang nampak dari kejahuan banyak yang mendukung, karena Tiara orang baru, maka dia hanya bisa melihat jagoan teman-temannya dari tempatnya dia duduk. Selesai pertandingan Tiara menghampiri Arya, salah seorang yang sedari tadi paling sering di soraki dan ternyata menjadi sang juara.

"Hai, kamu tadi maennya bagus, nama kamu Arya ta? ” Tiara dengan innocentnya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan sang juara, semua mata tiba-tiba mengarah padanya, yang dilihat malah dengan innocent tersenyum simpul.

" Ra, gila kamu, ngapain kesini? Nggak malu pa diliatin orang selapangan ini? ” bisik seorang teman yang langsung menyambar tangan Tiara.

" Loh truz knapa? ” Tiara terdiam sejenak, kemudian dia baru benar-benar menyadari jika semua mata tertuju padanya.

" Tiara, kamu kan nggak tau mereka cpa! ”

            " Mank aku salah bwat kenal ma kamu, ya? Aku kan cuma nambah temen koleksi anak basket, aku kan penggemar basket ” dan untuk kesekian kalinya pula semua mata itu kembali melotot padanya, karena merasa tak ditanggapi oleh Arya dan teman-temannya, Tiara pergi dengan sepatah kalimat yang cukup menggelikan.

" Apa bener salah ya?, ya udah deh aku pergi aja, duluan ya........ ” dan tepat saat itu juga teman-teman Arya ngakak, sedangkan Arya hanya nyengir kuda.

           

 

Hari ini di sekolah Tiara jadi tontonan, pasalnya kejadian kemaren udah bwat dia naik pamor, dia yang diliatin teman-temannya, seperti biasa hanya innocent. Di kelas dia langsung disamperin Lina, temen sebangku yang tak lama setelah dia masuk sekolah itu sudah akrab dengannya.

            " Kata Van kamu kemaren liat pertandingan basket dan nyamperin si Arya, ya?aku kaget loh waktu denger berita itu. Bener nggak sih? ”

            " Duh...pa da yang salah ya dari sikapku kemaren?kamu tau Lin...gara-gara insident kemaren, hp ku slalu berbunyi tiap jam hanya karena ada sms-sms nggak penting ”

" Berarti bner, Ra?aduh Tiara...kamu tau nggak sih, Arya tuch cowok paling populer sekarang ini, kamu kok bisa sich nyamperin bahkan ampe’ mnta knalan ma dia? ”

" Biarin ja, apa kata mreka donk, orang aku ngerasa nggak salah. ”

" Mank kamu tuh ya...si Arya tuh terkenal cuek n’ nggak smbarang maen ma orang, kok mlah kamu nyamperin dia, bahkan dia sempet memberi senyumnya bwat kamu, tapi yang pling kasus tuh ma tmen-tmennya, killer gitu,,,, ”

" Oh gitu to?aku ya mana tau, Lin. Jadi menurutmu tindakanku memalukan? ”

" aku nggak blang gitu loh, nggak kok, tapi malahan berani gitu ”

" tw ah Lin, aQ tw aQ sLah, may be krena insident itu dia malu krna pamornya turun”

" eh gak sah bilang gitu deh ra, dia baek kog ”

Tiba-tiba Tiara si ceria itu beranjak pergi karna sedari tadi melihat pemandangan yg tak biasa, mutia yang hoby chat itu senyum2 sendiri dg hp ditangannya.

            " chat ma cpa kamu, ta? ”

            " chat ma... aDa dech ”

            " duh capek dech ”

 

 

            " Cowry ” ucap Tiara cepat saat menabrak seseorang

            " Eh kamu,,,”

            " Kenapa? Biasa ja lagi, yuk duduk di taman, nganggur kan? ” lanjutnya saat melihat wajah Tiara yang nggak enak hati

            " Nganggur ce nggak, mank mau ngomong paan ce? ”

            " Ini, ya maksudku aku mau ngembaliin ini ” Arya menyodorkan sebuah buku kecil.

            " Loh kok bisa ada di kamu? ”

            " Iya, ini terjatuh saat kamu nyamperin ke lapangan dulu itu ”

            " yawdah makasih, oia aku juga mnta maaf, gara-gara ulahku kmaren pamor kamu sedikit turun ” Arya tersenyum dan menggeleng.

            " Justru aku donk yang mnta maaf ma kamu, gara-gara aku, kamu jadi di ributin se-sekolah ”

            " Udah ah nggak usah dibahas ”

           

Perbincangan mereka pun berlanjut, sampai akhirnya persahabat mereka terjalin erat hingga 3 tahun, kini Tiara, Mutia, dan Arya menduduki kelas 3 MA, Tiara dan Arya begitu dekat, mereka selalu terbuka akan masalah yang ada, tetapi berbeda dengan Mutia yang selalu disibukkan dengan sahabat chatnya.

 

            " Liat deh Ra, ada yang kirimin aku surat lagi, tapi nie beda, klo kmaren dari nak skul ndiri, klo ini dari...  ” baru Arya mau ngelanjutin baca, surat itu sudah dirampas oleh Tiara.

            " ceile dapet surat lagi, ini tuh ya, dari temen chat kamu yang biasanya itu... nie ada nama pengirimnya, si Aiyra itu loh...”

            " masa’ sih? Eh dia bilang...waduh Ra ternyata dia suka aku. ”

            " wah...bagus tuch, apa Ar? Aiyra suka kamu? ”

            Terbesit suatu ingatan beberapa waktu lalu ketika dia sedang menyelidiki siapa sebenarnya Aiyra dan siapa sebenarnya Ar_Ra di laptop Mutia dan Arya. ada sedikit rasa kecewanya pada Mutia, karena saudaranya itu nggak mau bercerita akan apa yang terjadi padanya, bahkan tentang perasaannya.

Arya memandang wajah Tiara dan mengalihkannya cepat, ada sesuatu dalam hatinya, ada sesuatu yang ingin dikatakan cowok itu, tentang hatinya, tapi semua pupus, pupus ketika papa Tiara memutuskan anaknya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

            " Papa kan udah bilang sama kamu kalo’ kuliah kamu harus di sydney, dan nggak boleh di ganggu gugat, papa selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, Tiara ”

            " Tapi pa..., Tiara nggak suka ini semua dan Tiara yakin papa tau hal itu ”

            " Papa nggak mau tau, pokoknya setelah papa pulang dari jakarta untuk tugas minggu depan, kamu harus sudah siap dengan semuanya, papa nggak mau dengar alasan apapun ”

            " Papa, Tiara nggak suka akademik ”

             Papa Tiara meninggalkan anaknya tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba badan ayah dari anak kembar itu terasa ingin limbung, tapi tetap di usahakannya untuk tetap bersiap berangkat ke Jakarta, Tiara hanya bisa menangis di pelukan Mutia.

            " Aku benci papa, Tia. Papa egois. ”

            " Udahlah Ra, terima aja apa yang ada sekarang, kamu harus inget juga klo papa bisa kecewa besar dan sakit ”

            " Nggak tau aku, Tia... aku capek debat ma papa, tolong aku untuk menyadarkan aku dari ketidaksukaanku pada akademik yang terlalu ini, please... ”

            " Pasti aku bantu, Ra...”

Tak lama setelah Tiara telah tenang

” eh iya Ra, boleh nggak aku jujur ma kamu? ”

            " Tentang paan?Arya? ”

" Koq bisa nyambung ke Arya? ”

            " g’ sah berlagak g’ tau, Mutia... aku tau siapa Aiyra dan aku tau siapa pengirim surat beberapa waktu lalu ke Arya ”

" Kamu tau? ”

            Mutia bertanya keheranan, dilihatnya wajah Tiara lekat-lekat, dan Tiara pun berbalik keheranan

            " aku benci, benci karena kamu nggak jujur ma aku, aku kecewa...

 

Sejenak tiara terdiam, syok dengan apa yang baru terjadi, rasanya kemarahan ini ingin terluapkan pada semua yang ada.

Aku benci aku benci ma semua, g da yang isa ngertiin aku, papa, Mutia, dan...

            " Ra, bukan salahnya kan? Ini semua salahku... ”

            " Ya, aku tahu dan aku males bahasnya, biarin aja, klo memang aku harus pergi ke tempat papa minta, aku pergi, mungkin aku lebih baik pergi saja, aku tak mau melukai siapapun, termasuk kamu, tia... meski aku marah karena u nggak crita aku, aku maklum dan aku memahami akan rasa terpendam itu, aku berusaha mengerti... ”

 

 

 

           

Kriiiiiiiing........... kriiiiiing.........

Telp di rumah Tiara berdering, Tiara bersiap mengangkat

            " Assalamu’alaikum... ”

            " Wa’alaikum salam ”

            " Bisa bicara dengan Tiara anaknya pak Rico? ”

            " Ya, saya sendiri, ada apa ya, pak? ”

            " Begini, pak Rico...... jadi ..... ”

            " Baiklah pak, saya mengerti, saya akan segera menyusul kesana ”

            Setetes air mata terjatuh, knapa selalu begini?, aku benci.... selalu peringatan itu terlambat, saat aku sudah akan memutuskan berubah, knapa malah mencelakakan orang yang aku sayangi hanya untuk mengingatkanku....

            " Tia, papa sakit, jadi kita haruz segera menjenguknya di Rumah sakit ”

            Ujarnya di telfon... tak lama kemudian Mutia datang dan mereka segera pergi ke rumah sakit

 

            Lelaki itu terbaring lemah, kata dokter papa terkena liver, dan beliau ingin anak-anaknya ada saat dia lemah seperti saat ini, papa merindukan masa dulu, kala kebahagiaan masih di pelupuk mata.

            " Kami sudah datang, pa.... ” ucap Tiara berbisik pelan

            " Kami datang untuk Papa.... ” Lanjut Mutia

            Mata lelaki itu terbuka, sedikit demi sedikit bayangan Mutiara menjadi jelas

            " Mutiara??? ”

            " Iya, papa.... kami datang ... ”          

            " Maafin,, Tiara ya, pa.... sebenarnya sejak kejadian kemarin itu Tiara sudah berfikir untuk memperbaiki sikap Tiara... tapi papa keburu sakit, papa pasti g enak hati punya anak kya’ Tiara.... maafin Tiara ya, pa... selalu nyusahin ” Air mata itu tak ingin bersembunyi dan memberontak, tak kuasa kini Tiara menahannya, air mata itu terjatuh kembali....

            " Ya, sayang... papa maafkan, papa juga minta maaf selama ini buat kamu merasa kesepian atau selalu memaksakan kamu... ”

            " udah deh terharu ne jadinya, be happy.... kan dah baikan.... ” Mutia mencairkan suasana

            Dan senyuman menjadi jawaban....

           

                                                           

 

            Tiara sudah bertekad akan berubah, kehidupannya harus menjadi cerah dan alhasil dia kini sudah berkutat dengan buku-bukunya, seseorang mendekat
            " Ra, akhirnya..... ” Tiara mendongak dan bertanya maksud cowok disebelahnya itu

            " Ya, syukurlah udah mau buka buku pelajaran ”

            " Hmm... dasar kamu, Ar... ne demi masa depan dan papa tau, bulan depan aku ke sydney, kan g seharuznya aku bersikap acuh dan selalu mengecewakannya, makanya aku putusin untuk memperbaiki diri... ”

            " oh... gtu ya?, tapi... ”

            " tapi kenapa, Ar? ”

            " g koq, hanya aja berarti u bakal pergi dong ”

            " he-eh ”

            " .... ”

            " udah deh Arya... g sah murung gtu, hey... aku bakal ttep selalu jadi sahabatmu koq, promise... ”

            " bener...? ”

            " iya.......... ” Tiara meyakinkan

           

Category: CeRITa PeNDEk | Added by: somat
Views: 116 | Downloads: 0 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Copyright MyCorp © 2016 | Make a free website with uCoz